MAKALAH ANALISIS
MENGENAI KONFLIK SARA
REIGITA
BAASITH RAMADANTY
15519405
ILMU BUDAYA
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JL. KOMJEN.POL.M.JASIN NO.9, TUGU, KEC. CIMANGGIS,
KOTA DEPOK, JAWA BARAT
16451
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena hanya
dengan rahmat-Nyalah penulis akhirnya bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
“Makalah Analisis Mengenai Konflik SARA” ini dengan baik dan tepat pada
waktunya.
Dalam
menyelesaikan makalah ini penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.
Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa
2. Ibu Ratna Komala, selaku
dosen Ilmu Budaya Universitas Gunadarma
3. Kedua orangtua, yang telah
memberi dukungan secara moril maupun material sehingga penulisan makalah ini
dapat selesai dengan baik.
Penulis
berharap semoga makalah ini bisa menambah penetahuan para pembaca. Namun,
terlepas dari itu, penulis memahami bawa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, sehingga penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan
kekurangan dalam penulisan maupun isi makalah ini.
Bogor, 30 Januari 2020
penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................................i
DAFTAR ISI ..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................2
A. Latar
Belakang ........................................................................................................2
B. Rumusan
Masalah ...................................................................................................2
C. Tujuan .....................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................3
A. Definisi SARA.........................................................................................................3
B. Penyebab
Konflik SARA.........................................................................................3
C. Dampak
Konflik SARA...........................................................................................5
D. Alternatif
Penanggulangan Konflik SARA..............................................................7
E. Contoh
Konflik SARA di Indonesia……………………………………………………….8
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................11
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang kaya akan
keberagaman, baik itu dari segi suku, bangsa, ras, maupun agama. Kekayaan akan
perbedaan ini adalah salah satu ciri khas yang sangat melekat pada diri bangsa
Indonesia. Keberagaman ini pula dibalut oleh semboyan yang menjadi ‘muka’
bangsa Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi
tetap satu jua. Semboyan ini mencerminkan kekuatan jati diri bangsa Indonesia
yang kaya akan keragaman suku, bangsa, etnis, dan golongan namun tetap kukuh
dan bersatu dalam perbedaan itu. Akan tetapi di sisi lain perbedaan dan
keragaman ini tidak sepenuhnya memiliki sisi yang positif. Keberagaman yang
kerap diagung-agungkan ini secara tersirat menyimpan potensi perpecahan yang
disebabkan oleh keberagaman itu sendiri. Menurut Najwan (2009:196) dari keanekaragaman
budaya, etnis, agama, dan multi golongan ini dari satu sisi secara teori multi
budaya merupakan potensi budaya yang dapat mencerminkan jati diri bangsa yang
besar, akan tetapi dari sisi lain juga berpotensi menimbulkan konflik yang
dapat mengancam integrasi bangsa karena konflik antar budaya dapat menimbulkan
pertikaian antar etnis, antar agama, ras, dan golongan (SARA) yang bersifat
sensitive dan rapuh yang menjurus ke arah disintegrasi bangsa Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1)
Apa
definisi dari SARA?
2)
Apa
saja penyebab konflik SARA?
3)
Apa
saja dampak konflik SARA?
4)
Apa
saja alternatif penanggulangan konflik SARA?
5)
Apa
saja contoh konflik SARA di Indonesia?
C. Tujuan
1)
Mengetahui
definisi dari SARA
2)
Mengetahui
penyebab konflik SARA
3)
Mengetahui
dampak konflik SARA
4)
Mengetahui
alternatif penanggulangan konflik SARA
5)
Mengetahui
contoh konflik SARA di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi SARA
Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan atau
yang biasa disebut SARA merupakan suatu pandangan dan tindakan yang didasarkan
pada sentimen identitas yang berkaitan dengan keturunan, agama, kebangsaan, dan
golongan. Istilah ini diciptakan pada masa kekuasaan orde baru, dan digunakan
untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan dengan menekan pers agar tidak
meliput dan memberitakan isu-isu yang berkaitan dengan konflik suku, agama,
ras, dan antargolongan. Setiap tindakan yang melibatkan kekerasan, pelecehan,
diskriminasi, dan segala macam bentuk tindakan baik itu verbal maupun nonverbal
yang didasrkan pada pandangan sentimen pada suatu identitas baik itu individu
maupun golongan tertentu dapat dikatakan sebagai tindakan SARA.
SARA dapat digolongkan ke dalam tiga
kategori, yaitu:
1.
Individual
SARA dalam
kategori individual merupakan tindakan yang dilakukan oleh suatu individu
ataupun kelompok dengan tindakan yang mersifat menyerang, melecehkan,
mendiskriminasi, atau menghina golongan lainnya.
2.
Institusional
Tindakan
ini merupakan tindakan yang dilakukan oleh institusi atau pemerintah melalui
aturan atau kebijakan yang bersifat diskriminatif bagi suatu golongan.
3.
Kultural
SARA yang
dikategorikan di sini adalah tindakan penyebaran tradisi atau gagasan-gagasan yang
sifatnya diskriminatif antar golongan.
B. Penyebab Konflik SARA
Banyak
konflik yang timbul akibat isu sara yang terus berkembang. Biasanya isu
tersebut diciptakan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Lalu sebenarnya
apa sajakah yang menyebabkan hal ini terjadi. Berikut 6 penyebab konflik sara
yang wajib diketahui dan diwaspadai.
1. Menganggap Paham yang Dianut Paling Benar.
Penyebab konflik sara yang pertama adalah karena adanya pandangan
bahwa kepercayaan yang di anut merupakan yang paling benar. Padahal paham yang
demikian merupakan paham yang harus dihindari. Memiliki paham yang demikian
akan memunculkan pemikiran yang berbahaya. Dengan menganggap keyakinan yang
dianut yang paling benar dan keyakinan lain salah hal ini dapat menyebabkan
dominasi dari penganut kepercayaan tententu. Dominasi ini dapat memicu
timbulnya diskriminasi pada kelompok penganut kepercayaan minoritas. Serta
tentu saja hal ini akan menyebabkan konflik antara kelompok mayoritas dan
minoritas. Untuk itu, diperlukan pengubahan dari paham yang sempit tersebut
menjadi paham yang terbuka. Dimana setiap penganut keyakinan yang berbeda harus
mampu mengedepankan logika dan nalar yang sehat. Bahwa setiap keyakinan yang
dipilih bukan didasarkan atas mana yang benar dan salah. Namum keyakinan yang
dipilih adalah sesuatu yang diyakini mampu merubah arah kehidupan menjadi lebih
baik.
2. Kurangnya Pemahaman Atas Kebebasan Dalam Bergama dan Beribadah
Kebebasan
dalam beragama dan beribadah merupakan hak yang melekat sebagai hak dasar
manusia. Tidak ada satu pun pihak yang bisa memaksakan kehendak atas apa yang
akan diyakini dan dipercaya sebagai agama yang akan dianut. Kurangnya pemahaman
atas kebebasan tersebut membuat isu sara dapat berkembang menjadi konflik yang
meluas. Kadangkala satu kelompok dengan keyakinan tertentu memaksa pihak lain
untuk mengikuti mereka seperti latar belakang
tragedi aleppo . Tidak jarang juga
digunakan tindakan kekerasan hingga berujung pada pengusiran satu kelompok dari
wilayah tertentu. Padahal hal tersebut tentu merupakan tindakan yang tidak bisa
dibenarkan. Seseorang harus dengan sukarela untuk bisa menganut satu keyakinan
yang ia yakini.
3.
Mengedepankan Paham
Radikalisme
Kelompok yang memaksakan kehendak mereka dan merendahkan
agama lain merupakan kelompok yang selayaknya harus segera di adili. Tidak
jarang mereka menggunakan jalan kekerasan agar tujuannya diakui dan diaetujui
oleh mayoritas masyarakat. Dan yang paling aneh adalah ternyata banyak orang
yang bergabung dengan ideologi primitif ini. Kelompok radikal banyak muncul di
daerah dengan paham dan pandangan sempit akan perbedaan. Bahkan beberapa
petinggi negara tergabung, dan mengikuti paham ini seperti penyebab konflik
sosial paling umum. Tentu saja hal ini
akan sangat berpengaruh pada hubungan antar agama, ras, dan suku bangsa. Jika
paham ini tidak segera di atasi maka akan sangat berbahaya. Mereka melakukan
tindakan membunuh, menyiksa dan tindakan tidak berprikemanusian lain atas dasar
kepercayaan yang mereka yakini. Biasanya kelompok radikal ini memiliki tujuan
untuk mendirikan sebuah negara dengan paham yang mereka anut.
4. Perebutan Lahan Untuk Lokasi Tempat Ibadah
Tempat ibadah merupakan tempat yang digunakan oleh para
penganut kepercayaan untuk melakukan peribadatan. Ibadah merupakan sebuah
aktifitas untuk bisa lebih dekat dengan sang pencipta. Ibadah juga menjadi
sarana untuk bisa memanjatkan doa. Tempat ibadah merupakan hal pokok yang harus
dimiliki para penganut kepercayaan seperti juga pengendalian konflik sosial . Selain sebagai tempat beribadah tempat ini juga berfungsi
untuk aktifitas keagamaan lainnya. Kadangkala ada pihak yang mengklaim lokasi
tanah tempat ibadah menjadi tanah untuk lokasi ibadah lain. Dengan
megatasnamakan agama ini lah maka hal ini dapat memicu timbutnya konflik.
Sengketa perebutan tanah untuk lokasi ibadah banyak terjadi dan membutuhkan
tindakan pecengahan sesegera mungkin. Karena jika isu agama telah telibat maka
bisa menimbulkan konflik yang lebih besar.
5. Kurangnya Kesadaran Masyarakat Akan Toleransi dan
Keharmonisan
Toleransi
merupakan salah satu upaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan antar umat
beragama. Apalagi menghadapi segala perbedaan yang ada tentu toleransi harus
diutamakan. Jika toleransi tidak dipegang sepenuhnya maka dunia tidak akan
mampu berjalan dengan harmonis. Setiap pemeluk agama akan merasa was was dan
tidak tenang. Tentunya kondisi itu dapat memicu konflik jika ada orang yang
tidak bertanggung jawab, melemparkan isu yang memicu timbulnya permusuhan.
Kesadaran bahwa kita hidup dengan segala perbedaan tentu akan membuat kita
lebih bijak menyiasati setiap perbedaan yang ada seperti dampak konflik agama . Dengan mengedepankan toleransi maka keamanan dan
perdamaian dunia akan dapat terwujud.
6. Perbedaan Penafsiran Terhadap Isi Kitab Suci yang Diyakini
Setiap
penganut agama pasti memiliki kitab suci sebagai pedoman hidup. Tentu saja isi
setiap kitab suci umat beragama berbeda-beda. Sehingga ketika kita menafsirkan
isi kitab suci tentu ada hal yang bisa jadi bersinggungan. Perbedaan penafsiran
ini tentu bukan merupakan hal yang harus dibesar besarkan seperti latar
belakang konflik suriah. Karena setiap pemeluk akan meyakini isi
kitab yang diyakininya sehingga anda tidak bisa menyamakan antara satu kitab
suci dan kitab suci lainnya. Memilili pandangan yang luas dan terbuka merupakan
hal yang bisa dilakukan untuk menyikapi hal ini.
C.
Dampak Konflik SARA
Akibat yang
disebabkan oleh terjadinya sebuah konflik cenderung tidak pernah menguntungkan.
Bahkan cenderung merugikan dan membahayakan. Berikut merupakan beberapa dampak
dari adanya konflik SARA, yaitu:
1.
Ketegangan Antara Individu atau
Kelompok yang Berkonflik
Konflik
sara bisanya diawali terjadi karena adanya perbedaan pendapat dan cara pandang
antara lebih dari satu penganut agama seperti latar belakang yugoslavia . Konflik dimulai dari individu kemudian berkembang ke
kolompok yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak orang terseret
didalamnya. Akibat awal yang akan terjadi dari timbulnya konflik ini adalah
tentu ketegangan antara individu dan kelompok yang berkonflik. Jika tidak
segera diredam maka ketegangan ini akan dapat menimbulkan konflik lain yang
lebih besar lagi. Oleh karena itu, sebisa mungkin ketegangan ini harus segera
di redam dan diselesaikan. Biasanya pada saat ini diperlukan seorang mediator
netral untuk memediasi kedua individu atau kelompok yang berkonflik agar
berdamai.
2. Memicu
Tindak Kekerasan
Setelah
timbulnya ketegangan maka secara psikologis akan mempengaruhi jiwa
seseoramg dan dapat memicu timbulnya tindak kekerasan. Tindakan ini biasanya
timbul dalam konflik antara dua kelompok yang memiliki pemikiran radikal.
Mereka tidak segan segan menggunkan tindak kekerasan agar tujuannya mendapat
pengakuan dan di benarkan. Padahal dari sini saja kita dapat melihat bahwa
tindakan ini merupakan tindakan yang salah. Karena bagaimanapun, apapun ajaran
yang dipercayai tidak membolehkan untuk saling menyakiti dan melukai sesama
manusia. Kondisi yang demikian tentu harus segera diatasi oleh para penegak
hukum seperti pada tahap penyelesaian
konflik yugoslavia ,
jika tidak maka tindakan ini dapat semakin meluas dan mengancam banyak jiwa.
3. Hilangnya
Rasa Aman dalam Kehidupan Bermasyarakat
Sudah
tentu bahwa jika terjadi tindak kekerasan maka akan memicu tindakan kerusuhan
yang lain seperti juga penyebab perang
pakistan dan india . Dengan
kondisi demikian maka masyarakat akan merasa ketakutan dan tidak aman. Keadaan
ini bukan hanya berdampak pada kelompok yang berkonflik namun, juga masyarakat
sipil di sekitar akan terkena dampaknya. Akibatnya banyak anak anak tidak akan
dapat bermain dengan leluasa, tidak bisa sekolah karena takut akan adanya
penyerangan. Orang orang dewasa akan ketakutan saat berangkat bekerja, para
pemilik usaha akan ketakutan jika usahanya menjadi sasaran. Kondisi yang
demikian tentu amat mengerikan dan tak dapat dibayangkan. Lambat laun
perekonomian akan lumpuh karena tidak ada transaksi keuangan. Banyak orang yang
memutuskan menyimpan uangnya, menarik tabungan nya untuk berjaga jaga jika
kondisi konflik semakin pelik. [AdSense-B]
4.
Jatuhnya Korban Jiwa dan Kerugian Harta
Benda
Kondisi
keamanan yang tidak stabil, kerusuhan dan kekerasan yang terjadi tentu saja
menimbulkan korban yang berjatuhan. Entah itu korban luka, atau bahkan hingga
meninggal tidak dapat dihindari seperti pada latar belakang
konflik kamboja.
Akibatnya konflik akan semakin memanas, karena banyaknya korban yang berjatuhan
yang akan menyebabkan salah satu pihak tidak terima dan berusaha untuk
membalas. Maka, tidak perlu menunggu lama agar perang pecah. Tidak hanya korban
jiwa yang berjatuhan, harta benda juga akan tidak luput dampak konflik. Karena
terdesak maka pihak tertentu akan menjarah toko, merampok dan merusak fasilitas
umum yang anda. Jika kondisi ini tidak dapat segera di take over oleh
organisasi militer dan kepolisisan setempat maka tinggal menunggu waktu saja.
Perang antar penganut agama yang lebih melibatkan banyak pihak akan terjadi.
5.
Mengancam Keutuhan Persatuan dan
Kesatuan Dalam Kehidupan Berbangsa
Dengan
kondisi yang terjadi pada poin sebelumnya, maka kerukunan antar umat beragama
akan hilang. Sehingga persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bernegara akan
runtuh. Dengan demikian maka tinggal menunggu waktu saja. Seberapa lama negara
mampu bertahan menghadapi konflik internal yang terjadi seperti latar belakang
tragedi allepo . Jika
gagal menghadapi kondisi ini maka yang akan terjadi adalah negara tersebut akan
hancur dan hanya menyisakan namanya dalam sejarah dunia. Dan jika berhasil
menuntaskan konflik ini maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk sebuah
negara dapat bangkit dan kembali pada kondisi sebelumnya.
6. Menimbulkan
Terpicunya Terjadi Konflik Lain
Sudah
menjadi kodratnya, manusia akan merasakan nasib yang sama terutama kepada
saudara mereka dengan keyakinan, suku dan ras yang sama. Kodrat inilah yang
kemudian memunculkan rasa ingin membantu dan meringankan beban mereka yang
berada di zona konflik. Sebenarnya hal ini merupakan hal yang positif dan patut
mendapat apresiasi. Namun, di lain hal kondisi ini akan memicu pertentangan
lain seperti contoh konflik antar ras . Serta dapat menyebabkan timbulnya konflik lain seperti
konflik antar ras, suku dan etnis. Sehingga kondisi ini akan semakin pelik dan
sulit menemukan cara penyelesaian yang tepat.
7.
Kehancuran Sebuah Negara
Yugoslavia
menjadi negara yang harus menyerah pada konflik sara yang timbul. Kini negara
tersebut hanya menyisakan sejarahnya saja. Hal ini menjadi bukti bahwa jika
pemerintah tidak segera bertindak dan melakukan pengendalian konflik sosial dan menganggap konflik sara sebagai konflik yang tidak
serius. Maka tentu yang akan terjadi di Yugoslavia juga akan terjadi pada
negara lain yang sedang di landa kecamuk konflik sara. Pemerintah harus
berperan secara aktif dengan mengebuk pihak yang dapat memicu timbulnya konflik
sara. Penegakan hukum harus dilakukam secara adil dan setara kepada semua
pihak. Sehingga jika ada tindakan yang akan memicu konflik sara maka harus
segera di tindak dengan tegas.
D.
Alternatif
Penanggulangan Konflik SARA
Pertama-tama perlu dilakukannya manajemen konflik.
Manajemen konflik itu sendiri adalah suatu tindakan konstruktif yang
direncanakan, diorganisasi, digerakkan dan dievaluasi secara teratur atas semua
usaha demi mengakhiri konflik. Ada delapan konsep dalam melakukan manajemen
konflik, yaitu:
1. Pengakuan diri bahwa dalam setiap masyarakat
selalu ada konflik
2. Analisis situasi yang menyebabkan
konflik
3. Analisis pola perilaku pihak-pihak yang
terlibat konflik
4. Menentukan pendekatan konflik yang dapat
dijadikan model penyelesaian
5. Membuka semua jalur-jalur komunikasi, baik
langsung atau tidak langsung;
6. Melakukan negoisasi atau perundingan dengan
pihak-pihak yang terlibat konflik
7. Rumuskan beberapa anjuran, alternatif, konfirmasi
relasi sampai tekanan
8. Hiduplah dengan penuh motivasi kerja dengan
konflik.
Kedua, melakukan analisis konflik, yaitu melakukan
penelitian tentang pola budaya antar etnik atau kelompok yang sedang konflik.
Tujuan penelitian ini adalah
1. Akan dapat melacak sejarah
etnik, karena sejarah budaya etnik sangat menentukan karakter etnik
masing-masing
2. Menjelaskan faktor penyebab konflik antar
etnik
3. Melakukan interpretasi terhadap konflik etnik
dengan melihat sebab-sebabnya
4. Mengelaborasi nasionalisme etnik dan
peranannya dalam eskalasi konflik sosial
5. Menggambarkan situasi khusus yang terjadi
dalam kondisi kekinian dan meprediksi kondisi keakanan.
Ketiga, perlu dilakukannya pendidikan komunikasi
lintas budaya. Diantara strategi pendidikan komunikasi lintas budaya adalah
memberlakukan pendidikan multikultural yang terintegrasi pada setiap mata
pelajaran di setiap satuan pendidikan. Inti pendidikan multikultural adalah,
demokratisasi, humanisasi dan pluralis (Sutrisno, L. 2003; Suryadinata, L.,
dkk. 2003).
E. Contoh
Konflik SARA di Indonesia
Di Indonesia yang penuh
keberagaman ini, konflik sudah biasa terjadi. Hanya saja, banyak orang
memanfaatkan konflik ini untuk kepentingan lain hingga pecah menjadi lebih
besar. Berikut merupakan beberapa contoh konflik SARA yang pernah terjadi di
Indonesia.
1. Konflik Antar Suku di Sampit (2001)
Barangkali
kerusuhan yang terjadi di Sampit adalah kerusuhan antar suku paling mengerikan
yang pernah terjadi di Indonesia. Konflik ini diduga akibat adanya warga Dayak
yang dibantai oleh Warga Madura yang menetap di sana. Versi lain mengatakan
jika kedua suku saling membakar rumah dan mengakibatkan Suku Dayak yang
memenuhi hampir semua wilayah Kalimantan Tengah murka. Akibat hal ini, 500 orang dikabarkan meninggal dunia. Dari jumlah itu
100 di antaranya mengalami pemenggalan kepala oleh Suku Dayak. Pemenggalan ini
dilakukan oleh Suku Dayak karena mereka ingin mempertahankan wilayah yang saat
itu mulai dikuasai oleh Suku Madura. Pihak Kepolisian setempat sebenarnya sudah
menangkap orang-orang yang dianggap sebagai dalang dari kerusuhan. Namun
setelah ditangkap, Kantor Polisi justru dikepung oleh Suku Dayak hingga Polisi
tepaksa melepaskan kembali tahanan. Konflik yang terjadi di tahun 2001 ini
akhirnya berakhir setelah setahun berlangsung.
2. Konflik Antar Agama di Ambon (1999)
Konflik yang ada
kaitannya dengan agama terjadi di Ambon sekitar tahun 1999. Konflik ini
akhirnya meluas dan menjadi kerusuhan buruk antara agama Islam dan Kristen yang
berakhir dengan banyaknya orang meninggal dunia. Orang-orang dari kelompok
Islam dan Kristen saling serang dan berusaha menunjukkan kekuatannya. Konflik ini awalnya dianggap sebagai konflik biasa.
Namun muncul sebuah dugaan jika ada pihak yang sengaja merencanakan dengan
memanfaatkan isu yang ada. Selain itu ABRI juga tak bisa menangani dengan baik,
bahkan diduga sengaja melakukannya agar konflik terus berlanjut dan mengalihkan
isu-isu besar lainnya. Kerusuhan yang terjadi di Ambon membuat kerukunan antar
umat beragama di Indonesia jadi memanas hingga waktu yang cukup lama.
3.
Konflik Antara Etnis
(1998)
Kerusuhan yang terjadi di penghujung Orde Baru 1998 awalnya dipicu oleh
krisis moneter yang membuat banyak sektor di Indonesia runtuh. Namun lambat
laun kerusuhan menjadi semakin mengerikan hingga berujung pada konflik antara
etnis pribumi dan etnis Tionghoa. Kerusuhan melebar dan menyebabkan banyak
aset-aset miliki etnis Tionghoa dijarah dan juga dibakar karena kemarahan. Selain menjarah dan membakar banyak hal penting dari
etnis Tionghoa. Mereka juga melakukan tindak kekerasan kepada para wanita dari
etnis ini. Kasus pelecehan seksual banyak dilaporkan hingga kasus pembunuhan
pun tak bisa dihindari. Konflik antar etnis yang terjadi di Indonesia benar-benar
membuat negeri ini menjadi lautan darah.
4.
Konflik Antar Golongan
Agama (Ahmadiyah dan Syiah) (2000-an)
Indonesia memiliki banyak sekali golongan-golongan dalam sebuah agama.
Misal Islam ada yang memposisikan sebagai NU, Muhammadiyah, hingga Ahamdiyah.
Sayangnya, ada beberapa golongan yang dianggap menyimpang hingga akhirnya
dimusuhi oleh golongan lain yang jauh lebih dominan. Konflik yang paling nampak
terlihat dari golongan Ahmadiyah yang mengalami banyak sekali tekanan dari
kelompok mayoritas di wilayahnya.Mereka dianggap
menyimpang hingga akhirnya diusir, rumah ibadah dan warga dibakar hingga aksi
kekerasan lainnya. Jemaah dari Ahmadiyah dipaksa kembali ke ajaran asli dan
meninggalkan ajaran lamanya. Selanjutnya ada kelompok lagi bernama Syiah
yang juga ditekan di Indonesia. Kelompok ini dianggap sesat dan harus
diwaspadai dengan serius. Sayangnya, masyarakat terlalu ekstrem hingga banyak
melakukan kekerasan pada kelompok ini mulai dai pembakaran rumah ibadah hingga
pesantren. Hal ini dilakukan dengan dalih agar Islam di Indonesia tidak
tercemar oleh ajaran pengikut Syiah.
5.
Konflik Antar Golongan
dan Pemerintah (GAM, RMS, dan OPM)
Konflik yang terjadi dengan kelompok-kelompok tertentu sering terjadi di
Indonesia. Paling heboh hingga sampai di bawa ke dunia internasional adalah
masalah dengan Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Konflik ini terjadi akibat banyak
dari milisi GAM menginginkan lepas dari Indonesia. Sayangnya pemerintah tak mau
hingga adu kekuatan terjadi selama bertahun-tahun. Konflik ini akhirnya selesai
setelah muncul sebuah kesepakatan yang salah satunya adalah membuat Aceh
menjadi daerah otonomi khusus. Selain GAM adalah
lagi RMS atau Republik Maluku Selatan dan Operasi Papua Merdeka atau OPM.
Kelompok ini menginginkan merdeka dan lepas dari Indonesia. Untuk memenuhi
hasrat ini tindakan-tindakan pemberontakan kerap terjadi dan membuat warga
sekitar merasa sangat terganggu. Pasalnya gerakan separatis seperti ini hanya
akan membuat situasi menjadi buruk.
DAFTAR PUSTAKA
http://repository.upi.edu/7083/4/S_SEJ_0808393_Chapter1.pdf

Komentar
Posting Komentar