GANGGUAN KEJIWAAN PADA MANUSIA


GANGGUAN KEJIWAAN
PADA MANUSIA






REIGITA BAASITH RAMADANTY
15519405
ILMU BUDAYA






FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JL. KOMJEN.POL.M.JASIN NO.9, TUGU, KEC. CIMANGGIS,
KOTA DEPOK, JAWA BARAT
16451

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat-Nyalah penulis akhirnya bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Gangguan Kejiwaan Pada Manusia” ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Dalam menyelesaikan makalah ini penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih kepada:
1.     Tuhan Yang Maha Esa
2.     Ibu Ratna Komala, selaku dosen Ilmu Budaya Universitas Gunadarma
3.     Kedua orangtua, yang telah memberi dukungan secara moril maupun material sehingga penulisan makalah ini dapat selesai dengan baik.
Penulis berharap semoga makalah ini bisa menambah penetahuan para pembaca. Namun, terlepas dari itu, penulis memahami bawa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan maupun isi makalah ini.





Bogor, 19 November  2019


Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........... i
DAFTAR ISI ........... ii
BAB I PENDAHULUAN ...........  2
A.   Latar Belakang ...........  2
B.    Rumusan Masalah ...........  3
C.    Tujuan ...........  3
D.   Metode Penulisan ...........  3
BAB II PEMBAHASAN ...........  4
A.   Definisi Gangguan Kejiwaan ...........  4
B.    Penggolongan Dalam Gangguan Kejiwaan ...........  4
C.    Contoh Gangguan Kejiwaan ...........  4
a)     Skizofrenia ...........  4
b)    Pseudobulbar Affect (PBA) ...........  6
c)     Kleptomania ...........  8
DAFTAR PUSTAKA              10




BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Kesehatan mental mengacu pada keadaan emosional dan psikologis seseorang. Memiliki mental yang sehat dan stabil tentunya sangat membantu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini juga menunjukkan ketahanan dan kemampuan untuk mengatasi suatu kesulitan dan permasalahan dalam hidup.
Seseorang yang memiliki kesehatan mental yang baik sekalipun tidak bisa terbebas dari kecemasan dan perasaan bersalah. Dia akan tetap mengalami kecemasan dan perasaan bersalah tetapi tidak dikuasai oleh perasaan tersebut. Keadaan ini merupakan suatu hal yang wajar, berbeda dengan orang yang memiliki kesehatan mental yang buruk, mereka cenderung kesulitan atau bahkan tidak bisa mengontrol dirinya dari kecemasan dan perasaan bersalah tersebut.
Masalah gangguan kejiwaan yang menyebabkan menurunnya kesehatan mental ini ternyata terjadi hampir di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) sebagai badan dunia PBB yang menangani masalah kesehatan dunia, memandang serius masalah kesehatan mental dengan menjadikannya sebagai isu global WHO. WHO mengangkat beberapa jenis gangguan jiwa seperti Schizophrenia, Alzheimer, epilepsy, keterbelakangan mental, dan ketergantungan alkohol sebagai isu yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Di Amerika Serikat, masalah kesehatan mental merupakan suatu hal yang biasa terjadi. Sekitar satu dari lima orang dewasa di Amerika mengalami setidaknya satu penyakit mental setiap tahunnya. Dan sekitar satu dari lima orang remaja berusia 13-18 tahun juga mengalami penyakit mental atau gangguan kejiwaan.
Penderita gangguan kejiwaan atau mental masih dianggap sebagai hal yang memalukan atau sebuah aib bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Masyarakat Indonesia beranggapan bahwa gangguan kesehatan mental atau kejiwaan tidak dapat disembuhkan sehingga bagi penderitanya layak dikucilkan. Minimnya pengetahuan tentang gangguan kesehatan mental atau kejiwaan membuat masyarakat Indonesia memberikan penilaian bahwa penderita gangguan kesehatan mental atau kejiwaan berbeda dengan para penderita sakit fisik yang dapat disembuhkan. Sehingga terjadi labeling pada penderita gangguan kesehatan mental atau kejiwaan adalah “orang aneh”.
Jamaknya penderita gangguan mental atau kejiwaan, serta minimnya kepedulian masyarakat tentang kesehatan mentalnya sendiri menjadi salah satu alasan penulis tertarik untuk membahas kesehatan mental dan gangguan kejiwaan pada makalah ini.


B.    Rumusan Masalah
1)    Apa itu gangguan kejiwaan?
2)    Apa saja penggolongan dalam gangguan kejiwaan?
3)    Apa saja contoh gangguan kejiwaan?

C.    Tujuan
1)    Mengetahui definisi dari gangguan kejiwaan.
2)    Mengetahui penggolongan dalam gangguan kejiwaan.
3)    Mengetahui contoh gangguan kejiwaan.

D.   Metode Penulisan
Metode penulisan yang diunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi kepustakaan atau literature yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari buku referensi, penunjang, dan media lainnya seputar tema yang dibahas.




BAB II
PEMBAHASAN

A.   Definisi Gangguan Kejiwaan
Menurut Depkes RI (2000), gangguan kejiwaan adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimblkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam, bisa bersumber dari hubungan yang tidak memuaskan dengan seseorang atau suatu kelompok seperti diperlakukan tidak adil, diperlakukan semena-mena, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa yang disebabkan oleh faktor genetik, kelainan saraf, dan gangguan pada otak (Djamaludin, 2001). Jiwa atau mental yang sehat tidak hanya berarti bebas dari gangguan. Seseorang bisa dikatakan jiwanya sehat jika ia bisa dan mampu untuk menikmati hidup, memiliki keseimbangan antara aktivitas kehidupannya, mampu menangani masalah secara sehat, serta berperilaku normal dan wajar, sesuai dengan tempat atau budaya dimana dia berada. Orang yang jiwanya sehat juga mampu mengekspresikan emosinya secara baik dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, sesuai dengan kebutuhan.
B.    Penggolongan Dalam Gangguan Kejiwaan
Secara internasional, penggolongan gangguan mental atau kejiwaan mengacu pada DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th edition). DSM IV ini dikembangkan oleh para ahli di bidang psikiatri di Amerika Serikat. DSM IV ini telah dipakai secara luas teruatama oleh para psikiater dalam menentukan diagnosa gangguan kejiwaan. Di Indonesia para ahli kesehatan jiwa menggunakan PPDGJ iii (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa iii) sebagai acuan dalam menentukan diagnosa gangguan jiwa.
Secara umum gangguan jiwa dapat dibagi ke dalam dua kelompok yaitu gangguan jiwa ringan dan gangguan jiwa berat. Yang termasuk ke dalam gangguan jiwa ringan antara lain cemas, depresi, psikosomatis, dan kekerasan. Sedangkan yang termasuk ke dalam gangguan jiwa berat yaitu skizofrenia, manik depresif, dan psikotik lainnya.
C.    Contoh Gangguan Kejiwaan
Berikut adalah beberapa contoh dari gangguan kejiwaan:
a)     Skizofrenia
Skizofrenia adalah gangguan mental jangka panjang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi atau delusi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Pada umumnya, skizofrenia terjadi dengan karakteristik adanya kerusakan dan keanehan pada pikiran, persepsi, emosi, pergerakan, dan perilaku.
Sebanyak 1 dari 100 orang, atau sekitar 1 persen populasi dunia, terkena penyakit yang dapat dialami oleh pria dan wanita dari rentang usia 16-30 tahun. Namun, dalam banyak kasus, penyakit ini lebih sering dialami oleh pasien pria daripada wanita.
Tanda-tanda dan Gejala
Gejala skizofrenia pada dasarnya bervariasi berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Meski begitu, ada beberapa gejala yang paling menonjol di antaranya:
·      Halusinasi. Orang yang terkenaa skizofrenia sering mendengar, melihat, mencium, atau merasakan hal-hal yang tidak nyata. Seringnya mereka mendengar suara yang jelas dari orang yang dikenal maupun orang yang tidak dikenal. Suara ini mungkin akan memberi tahu penderita untuk melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nayaman, seperti bunuh diri atau membunuh orang lain.
·      Delusi. Orang denagn skizofrenia juga memiliki keyakinan yang kuat akan suatu hal yang salah, misalnya merasa orang lain ingin mencelakakan atau membunuh dirinya. gejala skizofrenia yang satu ini akan berdampak langsung pada perilaku pengidapnya.
·      Pikiran kacau dan ucapan membingungkan. Orang dengan kondisi ini sering kesulitan untuk mengatur pikiran mereka. Mereka mungkin tidak memahami apa yang anda bicarakan saat anda mengajaknya berbicara,. Tidak hanya itu, ketika mereka berbicara, mereka sering mengeluarkan ucapan yang itdak masuk akal dan terdengar membingungkan.
·      Sulit konsentrasi. Pikiran yang carut marut membuat orang dengan kondisi ini kesulitan untuk berkonsentrasi atau fokus pada satu hal.
·      Gerakan berbeda. Beberapa orang dengan kondisi ini sering Nampak gelisah. Sering kali mereka melakukan gerakan yang sama berulang kali. Meski begitu, terkadang mereka dapat juga diam selama berjam-jam (katatonik).
Penyebab
Sampai saat ini para ahli belummenegtahui apa yangmenyebabkan seseorang mengalami penyakit kejiwaan. Meski begitu, para peneliti percaya bahwa ada beberapa hal yang dapat memicu penyakit ini. beberapa hal yang dapat menjadi pemicu skizofrenia adalah:
·      Senyawa kimia di otak. Kadar seratonin dan dopamine di dalam otak yang tidak seimbang diyakini para ahli bisa menyebabkan penyakit ini.
·      Perbedaan struktur otak. Studi pemindai saraf otak menunjukkan perbedaan dalam struktur otak dan system saraf pusat orang dengan penyakit ini. Para peneliti tidak yakin mengapa hal tersebut bisa terjadi, namun mereka menyebutkan bahwa gangguan kejiwaan ini terkait dengan penyakit otak.
·      Genetik. Penyakit ini mungkin diwariskan di dalam keluarga. Jadi, jika salah satu keluarga inti terkena penyekait ini, maka resiko keturunannya mengalami hal yang serupa semakin tinggi.
·      Faktor sosial. Skizofrenia bisa juga dipengaruhi oleh adanya faktor sosial seperti tingkat sosial yang rendah, kurangnya penghargaan dari orang lain, dan juga adanya perlakuan merendahkan yang diterima dari orang lain.
·      Obat-obatan tertentu. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti narkotika.
Alternatif Pengobatan
·      Obat-obatan. Untuk menangani halusinasi dan delusi, dokter akan meresepkan obat antipsikotik dalam dosis seminimal mungkin. Antipsikotik bekerja denngan menghambat efek dopamine dan serotonin dalam otak. Pasien harus tetap mngonsumsi antipsikotik seumur hidupnya, meskipun gejala yang dialami sudah membaik.
·      Psikoterapi. Psikoterapi untuk penderita skizofrenia bertujuan agar penderita dapat mengendalikan gejala yang dialaminya. Terapi ini akan dikombinasikan dengan pemberian obat-obatan. Psikoterapi sendiri terbagi dalam beberapa metode, yaitu terapi individual, terapi perilaku kognitif, dan terapi remediasi kognitif.
·      Terapi ekeltrokonvulsif. Terapi elektrokonvulsif merupakan metode yang paling efektif untuk meredakan keinginan bunuh diri, mengatasi gejala depresi berat, dan menangani psikosis. Terapi ini biasanya dilakukan 2-3 kali dalam sepekan, selama 2-4 minggu, dan dapat dikombinasikan dengan psikoterapi dan pemberian obat. Dalam terapi ini, pasien akan diberikan bius umum, dan obat untuk membuat otot pasien lebih rileks. Kemudian, dokter akan memasang elektroda di ubun-ubun pasien. Arus listrik rendah akan mengalir melalui elektroda, dan memicu kejang singkat di otak pasien.

b)    Pseudobulbar Affect (PBA)
Efek pseudobulbar atau penyakit pesudobulbar affect (PBA) adalah penyakit yang membuat penderitanya tertawa atau menangis tiba-tiba, tanpa ada pemicunya. Berbeda dengan orang normal, penderita PBA sering tertawa atau menangis pada situasi yang tidak lucu atau sedih. PBA sendiri digambarkan dalam film melalui sosok Arthur Fleck atau Joker. Joker dideskripsikan sebagai seseorang yang sering tertawa tanpa sebab, bahkan ketika berada dalam situasi yang tidak lucu. Dengan kata lain, suasana hati penderita PBA bisa bertolak belakang dengan ekspresi yang ditampilkan.
Tanda-tanda dan Gejala
Gejala pseudobulbar affect bisa terjadi kapan saja secara tiba-tiba tanpa ada pemicunya. Tangis dan tawa penderita pseudobulbar affect memiliki karakteristik yang berbeda dengan gangguan mental lain, misalnya depresi atau gangguan bipolar, yaitu:
·      Tertawa dan menangis secara tidak terkendali dan berlebihan, berbeda dengan tawa dan tangis pada orang normal.
·      Tawa dan tangis tidak dipengaruhi oleh suasana hati, sehingga penderita PBA dapat menangis atau tertawa meski tidak sedang merasa sedih atau lucu, juga dalam situasi yang menurut orang normal tidak sedih atau lucu.
Selain tawa dan tangis yang berlebihan, penderita PBA juga seringkali merasa frustasi dan marah. Rasa frustasi dan marah tersebut bisa meledak-ledak, namun hanya berlangsung selama beberapa saat.
Untuk pola makan dan tidur sendiri, penderita PBA tidak mengalami gangguan. Penderita PBA juga tidak mengalami penurunan berat badan, yang mungkin dialami oleh penderita gangguan mental lainnya.
Penyebab
Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang menderita PBA. Akan tetapi, ada dugaan bahwa PBA disebabkan oleh kerusakan pada bagian otak yang mengontrol emosi, serta adanya perubahan pada zat kimia otak. Hal ini karena penyakit PBA biasanya muncul pada orang-orang yang mengalami gangguan saraf seperti berikut:
·      Penyakit Alzheimer
·      Penyakit Parkinson
·      Penyakit Wilson
·      Multiple sclerosis
·      Amytrophic lateral sclerosis (ALS)
·      Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
·      Epilepsy
·      Demensia
·      Tumor otak
·      Stroke
·      Cedera otak
Selain itu, perubahan zat kimia di otak yang berkaitan dengan depresi dan suasana hati juga berperan dalam munculnya PBA. Perubahan zat kimia ini dapat mengganggu sinyal dan pengolahan informasi di otak, sehingga memicu munculnya gejala dan keluhan PBA.
Alternatif Pengobatan
Sejauh ini tidak ada obat khusus yang efektif untuk mengatasi PBA. Meski demikian, golongan obat antidepresan dan obat quinidine sulfate, seperti dextromethorphan, diketahui mampu mengendalikan frekuensi serta ledakan emosi yang dialami oleh penderita PBA.
c)     Kleptomania
Kleptomania adalah suatu kondisi yang termasuk ke dalam kelompok gangguan kendali impulsif, yaitu ketika penderita tidak dapat menahan diri untuk mengutil atau mencuri.
Umumnya, kleptomania terbentuk di masa remaja, namun ada juga yang muncul setelah dewasa. Para penderita kleptomania kerap melakukan aksinya di tempat umum, seperti di warung atau took, namun sebagian ada juga yang mengutil dari rumah teman atau kerabatnya. Gangguan ini bisa menimpa anak-anak, remaja, atau dewasa. Meski jarang terjadi, kleptomania juga bisa dialami pada usia tua.
Tanda-tanda dan Gejala
Perlu diketahui bahwa kleptomania berbeda dengan pencurian yang dilandasi dengan motif kriminal. Sejumlah gejala yang terdapat pada penderita kleptomania adalah sebagai berikut:
·      Penderita kleptomania selalu gagal menolak dorongan yang kuat untuk mencuri, meski barang yang dicuri adalah sesuatu yang tidak berharga dan tidak mereka butuhkan. Hal ini berbeda dari pencurian kriminal yang mencuri barang berharga dan bernilai tinggi.
·      Penderita umunya merasa cemas dan tegang saat hendak melakukan pencurian, lalu timbul rasa senang dan puas setelah berhasil melakukan aksinya. Kemudia, muncul rasa bersalah, menyesal, malu, dan takut tertangkap. Namun demikian, mereka tetap tidak bisa menahan diri untuk mengulangi perbuatannya.
·      Penderita kleptomania umumnya melakukan aksinya secara spomtan dan seorang diri. Barang yang dicuri juga jarang digunakan untuk dirinya sendiri. Penderita kleptomania umumnya membuang barang curian tersebut, atau memberikannya pada teman atau keluarganya.
·      Pencurian yang mereka lakukan juga tidak berhubungan dengan respons terhadap delusi atau halusinasi. Bukan juga karena luapan kemarahan atau balas dendam.
Penyebab
Belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang menderita kleptomania, namun kondsi ini diperkirakan terbentuk akibat adanya perubahan komposisi kimia di dalam otak. Diduga perilaku impulsive ini muncul akibat gangguan zat kimia di otak, seperti menurunnya kadar serotonin atau hormon yang bertugas mengatur emosi, ketidakseimbangan sistem oploid otak yang mengakibatkan keinginan untuk mencuri tidak bisa ditahan, serta terjadi pelepasan dopamin yang menjadikan pelaku merasa senang atas percuatannya dan cenderung merasa ketagihan.
Alternatif Pengobatan
Meski kleptomania tidak bisa disembuhkan, namun kondisi ini bisa ditangani dengan bantuan medis. Ppengobatan yang diberikan umumnya adalah kombinasi anatar psikoterapi dan obat-obatan.
Jenis psikoterapi yang umumnya diterapkan adalah perilaku kognitif. Melalui metode ini, pasien akan diberikan gambaran mengenai perbuatan yang dia lakukan serta akibat yang bisa diterima. Melalui gambaran tersebut, pasien diharapkan bisa menyadari bahwa pencurian yang dia lakukan merupakan tindakan yang salam. Pasien juga akan diajarkan cara melawan atau mengendalikan keinginan kuatnya dalam mencuri, misalnya dengan teknik relaksasi.
Untuk obat-obatan, dokter aka meresepkan obat antidepresan jenis selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Oabt ini bekerja dengan membuat serotonin bekerja dengan lebih efektif. Serotonin yang bekerja efektif dalam otak bisa membantu mengurangi menstabilkan emosi. Dokter juga bisa memberikan obat opioid antagonist yang berfungsi untuk menurunkan dorongan mencuri dan rasa senang yang timbul setelah mencuri.




            DAFTAR PUSTAKA           



https://www.scribd.com/doc/94224456/MAKALAH-GANGGUAN-JIWA

https://www.academia.edu/14674608/KONSEP_GANGGUAN_JIWA

https://www.researchgate.net/publication/273866139_Mengenal_gejala_dan_penyebab_gangguan_jiwa

http://jurnal.unpad.ac.id/share/article/download/13073/5958

https://hellosehat.com/penyakit/skizofrenia/amp/

https://www.alodokter.com/pseudobulbar-affect-pba

https://www.alodokter.com/kenali-pseudobulbar-affect-kondisi-yang-membuat-anda-tertawa-tanpa-disadari

https://www.alodokter.com/kleptomania


Komentar