MENGUPAS TARI GANDRUNG
BANYUWANGI
REIGITA BAASITH RAMADANTY
15519405
ILMU BUDAYA
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JL. KOMJEN.POL.M.JASIN
NO.9, TUGU, KEC. CIMANGGIS,
KOTA DEPOK, JAWA BARAT
16451
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat-Nyalah
penulis akhirnya bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Mengupas Tari
Gandrung Banyuwangi” ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Dalam menyelesaikan
makalah ini penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, dalam
kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih kepada:
1.
Tuhan Yang Maha Esa
2.
Ibu Ratna Komala, selaku dosen Ilmu Budaya Universitas
Gunadarma
3.
Kedua orangtua, yang telah memberi dukungan secara moril
maupun material sehingga penulisan makalah ini dapat selesai dengan baik.
Penulis berharap semoga
makalah ini bisa menambah penetahuan para pembaca. Namun, terlepas dari itu,
penulis memahami bawa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga
penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan
maupun isi makalah ini.
Bogor, 10 November 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 2
A.
Latar Belakang .............................................................................................. 2
B.
Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
C.
Tujuan ........................................................................................................... 2
D.
Metode Penulisan .......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
A.
Definisi Seni Tari Gandrung Banyuwangi .................................................... 3
B.
Gerakan dan Makna Tari Gandrung Banyuwangi ........................................ 5
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 7
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Seni adalah pengalaman dalam
bentuk medium indrawi yang menarik dan ditata dengan rapi, yang diwujudkan
untuk dikomunikasikan dan direnungkan. Seni adalah karya manusia yang dapat
menimbulkan rasa senang dalam rohani kita.
Tari merupakan salah satu cabang
kesenian yang memiliki media ungkap atau substansi gerak, dan gerak yang
terungkap adalah gerak manusia. Gerakan-gerakan dalam tari bukanlah gerak
realistis atau gerak keseharian, melainkan gerak yang telah dibentuk secara
ekspresif.
Di Indonesia sendiri perjalanan
dan bentuk seni tari sangat terkait dengan perkembangan kehidupan
masyarakatnya, baik ditinjau dari struktur etnik maupun dalam lingkup negara
kesatuan. Jika ditinjau sekilas perkembangan Indonesia sebagai negara kesatuan,
maka perkembangan tersebut tidak terlepas dari latar belakang keadaan
masyarakat Indonesia.
Tarian daerah Indonesia dengan
beranekaragam jenis tarian Indonesia seni tari membuat Indonesia kaya akan adat
kebudayaan kesenian. Terdapat lebih dari 700 suku bangsa di Indonesia dan pada
setiap suku bangsa terdapat berbagai tarian khasnya sendiri. Salah satunya
adalah daerah Banyuwangi yang memiliki tarian Gandrung Banyuwangi sebagai seni
tari khas daerahnya. Gandrung banyuwangi merupakan seni tari yang cukup unik
dan sempat menuai penolakan dari beberapa pihak, hal ini menarik minat penulis
untuk menyusun makalah tentang seni tari Gandrung Banyuwangi.
B.
Rumusan
Masalah
1)
Apa
itu tarian Gandrung Banyuwangi?
2)
Apa
saja makna dari gerakan tari Gandrung Banyuwangi?
C.
Tujuan
1)
Untuk
mengetahui definisi dari tarian Gandrung Banyuwangi.
2)
Untuk
mengetahui makna dari gerakan tari Gandrung Banyuwangi.
D.
Metode
Penelitian
Metode penulisan yang diunakan
dalam penyusunan makalah ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi
kepustakaan atau literature yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari
buku referensi, penunjang, dan media lainnya seputar tema yang dibahas.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Seni Tari Gandrung Banyuwangi
Salah satu kesenian
khas yang menjadi icon Kabupaten Banyuwangi adalah Tari Gandrung. Tari yang
masih satu aliran dengan Jaipong dan Ronggeng ini menjadi hiburan rakyat di
acara-acara hajatan. Tari Gandrung biasanya disuguhkan dalam menyambut musim
panen raya, resepsi pernikahan, khitanan, dan berbagai seremonial lainnya.
Ada banyak versi mengenai
awal kemunculan tarian ini. salah satunya menyebutkan bahwa tarian ini muncul
setelah kekalahan pahit yang dialami rakyat Blambangan saat melawan VOC.
Kesenian ini awalnya digunakan sebagai pemersatu rakyat Blambangan yang
tercerai berai akibat kekalahan tersebut. Pada awalnya, Gandrung dibawakan oleh
kaum pria yang berdandan seperti perempuan. Seiring waktu dan perubahan zaman,
Tari Gandrung kini dibawakan oleh kaum wanita.
Dalam versi lainnya
kata “Gandrung” diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang
agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan kepaada
masyarakat. Tarian Gandrung Banyuwangi dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur
masyarakat setiap masa panen. Kesenian ini juga masih termasuk dalam satu aliran
dengan kesenian Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah, Lengger di
wilayah Banyumas, dan Joged Bumbung di Bali. Tarian dilakukan dalam bentuk
berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang
dikenal dengan “paju”.
Dalam pertunjukkan
Tari Gandrung, setidaknya ada tiga bagian yang ditampilkan. Pertama adalah jejer, yaitu bagian ketika penari
Gandrung menari sendiri atau berkelompok tanpa melibatkan tamu. Selepas jejer, adalah paju (atau maju), yaitu setiap penari akan mendampingi para tamu
yang maju ke panggung untuk ikut menari secara bergantian. Penutup dari
pertunjukkan Gandrung adalah seblang
subuh. Pada bagian ini, gerakan penari akan melambat dengan iringan gending
bertema sedih, antara lain “seblang lokento”.
Dalam hal tata busana,
penari Ganrung Banyuwangi memiliki busana yang khas dan berbeda dengan tarian
Jawa lainnya. Ada pengaruh dari wilayah Bali (Kerajaan Blambangan) yang tampak,
yaitu:
1) Bagian Tubuh, busana untuk tubuh
terdiri dari baju yang terbuat dari bahan beludru berwarna hitam, dihias dengan
ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol
yang meiliti leher hingga dada, sedangkan bagian pundak dan separuh punggung
dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasangi ilat-ilatan yang menutup
tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias
masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan
ikat pinggang dan sembong serta hiasan kain warna-warni. Selendang selalu
dikenakan di bahu.
2) Bagian Kepala, pada bagian kepala
dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit
kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi
ornamen tokoh Antasena (putra Bima) yang berkepala manusia raksasa namun
berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari Gandrung. Pada maa lampau
ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas
seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini
kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini. Selanjutnya,
pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat
wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang
disebut cundhuk mentul di atasnya. Seringkali ornamen ini dipasang hio yang
pada gilirannya memberi kesan magis.
3) Bagian Bawah, penari Gandrung
menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang
paling banyak dipakai serta menjadi cirri khusus adalah batik dengan corak
gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih
yang menjadi cirri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari Gandrung
tidak memakai kaus kaki, namun semenjak deade tersebut penari Gandrung selalu
memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukkannya.
Berbicara masalah
personil Gandrung tidak bisa terlepas darin personil musik pengiring. Personil
musik pengiring pada mulanya hanya terdiri dari sebuah rebab, kendang, gong,
kempul, dan kluncing. Dalam perkembangan selanjutnya tidak banyak mengalami
perbedaan. Musik pengiring kesenian Gandrung terdiri dari:
1) Biola, dua buah biola dengan dua orang
orang penggesek pada biola yang biasa kita dapati pada musik orkes keroncong.
Sudah tentu teknis penggesekan serta penyajian lagu yang dibawakannya sesuai
dengan tradisi daerahnya.
2) Gendang, terdiri dari sebuah atau dua
buah kendang dengan seorang pemukul kendang. Peralatan kendang semacam
peralatan pokok yang mampu menyatu ritme srta tempo penampilannya di samping
memberikan keharmonisan penari itu sendiri dengan seorang pengendang.
3) Kenong, dengan penabuh yang biasa
disebut kethuk. Penampilan kethuk ini menambah manisnya irama
gending yang dibawakannya.
4) Kluncing, seorang penabuh kluncing mempunyai peran rangkap. Di
samping penabuh peralatan, juga berfungsi sebagai pengundang atau pembimbing
Gandrung dalam penampilannya.
5) Gong dan Kempul, seorang penabuh gong
dan kempul sebagai pemanis suara indah pada akhir suatu gending.
Kelima peralatan musik
Gandrung itu merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Satu peralatan
saja yang tidak ditemui dalam penyajiannya, bukan lagi Gandrung namanya, ciri
khas ketradisionalannya menjadi hilang. Karena itu enam personil pemain musik
tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh.
B.
Gerakan
dan Makna Tarian Gendrung Banyuwangi
Secara garis besar gerak tari Gandrung Banyuwangi terbagi menjadi tiga bagian, yatu:
a.
Jejer, bagian ini merupakan pembuka seluruh pertunjukkan Gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu.
b.
Maju atau ngibing, setelah jejer selesai, maka sang
penari muali memberikan sendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang
terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya
para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di
tengah-tengah. Sang Gandrung akan mendatangi para tamu
yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan yang menggoda,
itulah yang menjadi esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu. Setelah
selesai, si penari akan mendatangi rombongan penonton, dan meminta
salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repen
(nyanyian yang tidak ditarikan),
dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh.
c.
Seblang Subuh, dengan kata ulang
“Seblang”, menurut istilah tradisi Banyuwangi dimaksudkan dengan pengertian “sadarlah”
atau “kembali seperti sedia kala”. Maknanya ditujukan kepada semua yang hadir dengan maksud agar sadar bahwa jangan hanya bersenang-senang saja semalam suntuk, ingatlah kepada anak istri di rumah,
ingatlah kepada tugas masing-masing dan
sebagainya. Acara ini dilakukan penari Gandrung pada saat menjelang subuh, oleh karena itu sering juga orang
menyebut acara ini dengan istilah “seblang subuh”. Biasanya dari berbagai peristiwa yang dialami
pada malam pesta semalam suntuk itu, diingat kembali melalui syair-syair lagunya dengan maksud antara lain:
·
Memohon maaf kepada orang yang
mempunyai hajat.
·
Begitu
pula kepada para tamu serta penyampaian rasa
terimakasih atas segala penghargaan yang
diterimanya.
·
Ungkapan
rasa menentang terhadap perlakuan colonial Belanda sebagai penjajah Nusantara.
Selain itu ketika kita menyaksikan Tari
gandrung Banyuwangi sebenarnya banyak nilai filosofis yang
terkandung di dalamnya sebagai
salah satu ajaran
moral yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,
diantaranya:
1)
Manusia
dan Keindahan, keindahan
yang dimaksud adalah keindahan dari gerakan Tari Gandrung itu sendiri. Selain itu ada juga keindahan
pada nyanyian dan alat music pengiring Tari Gandrung yang
seluruhnya menimbulkan suara yang khas.
Begitu juga dalam hidup ini ketika kita bias berjalan seirama dalam memanfaatkan potensi diri maka akan menimbulkan kekuatan yang luar biasa.
2)
Manusia
dan Tanggung Jawab, unsure tanggung jawab yang ada pada
Tari Gandrung ini adalah kita sebaga igenerasi muda harus melestarikan Tari
Gandrung tersebut
agar warisan budaya ini tidak hanya tinggal nam asaja, karena pada
umunya anak muda zaman sekarang tidak mau mempelajari tarian tersebut sehingga tidak adanya regenerasi dan
ditakutkan lamba tlaun menyebabkan Tari
Gandrung akan hilang ditelan zaman.
3)
Pandangan Hidup, dalam Tari gandrung tersebut pandangan yang diambil dari hidup ini begitu banyak persoalan yang
dihadapi oleh sang penari Gandrung,
mulai dari pria yang tidak bermoral yang
melakukan pelecehan seksual terhadap sang penari ketika di panggung,
sampai kehidupan rumah tangga sang penari
yang jarang ter-ekspos.
DAFTAR
PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar