MENGUPAS UPACARA ADAT
MEPANDES DI BALI
REIGITA BAASITH RAMADANTY
15519405
ILMU BUDAYA
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JL. KOMJEN.POL.M.JASIN
NO.9, TUGU, KEC. CIMANGGIS,
KOTA DEPOK, JAWA BARAT
16451
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat-Nyalah
penulis akhirnya bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Mengupas Upacara
Adat Mepandes di Bali” ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Dalam menyelesaikan
makalah ini penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, dalam
kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih kepada:
1.
Tuhan Yang Maha Esa
2.
Ibu Ratna Komala, selaku dosen Ilmu Budaya Universitas
Gunadarma
3.
Kedua orangtua, yang telah memberi dukungan secara moril
maupun material sehingga penulisan makalah ini dapat selesai dengan baik.
Penulis berharap semoga
makalah ini bisa menambah penetahuan para pembaca. Namun, terlepas dari itu,
penulis memahami bawa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga
penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan
maupun isi makalah ini.
Bogor, 10 November 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 2
A.
Latar Belakang .............................................................................................. 2
B.
Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
C.
Tujuan ........................................................................................................... 3
D.
Metode Penulisan .......................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 4
A.
Pengertian Tradisi Upacara Mapandes .......................................................... 4
B.
Prosesi Upacara Mapandes ........................................................................... 5
C.
Makna Prosesi Upacara Mapandes ............................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 8
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia merupakan bangsa
yang terdiri dari beribu-ribu suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah
Indonesia dan telah ada sejak
ribuan tahun yang lalu. Jaspan (dalam Soekanto 2001:21) mengklasifikasikan suku bangssa Indonesia dengan
mengambil patokan kriteria bahasa,
kebudayaan daerah, serta susunan masyarakat, dengan rincian (1) Sumatera, 49
suku bangsa; (2) Jawa, 7 suku bangsa; (3) Kalimantan, 73 suku bangsa; (4)
Sulawesi, 117 suku bangsa; (5) Nusa Tenggara, 30 suku bangsa; (6) Maluku-Ambon
41 suku bangsa; (7) Irian Jaya, 49 suku bangsa. Masing-masing suku bangsa
tersebut memiliki tradisi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal
inilah yang menyatakan bahwa Indoneisa merupakan suatu negara yang majemuk akan
kebudayaan, baik dalam bahasa sehari-hari maupun tradisi-tradisi lainnya.
Bentuk-bentuk tradisi yang dilakukan oleh berbagai suku bangsa antara lain
perkawinan, pesta adat, kematian, dan lain sebagainya. Masing-masing bentuk
upacara adat tersebut dilakukan dengan cara tertentu yang menjadi ciri khas
dari masing-masing daerah. Ciri khas tersebut di satu pihak ada yang masih
dipertahankan oleh masyarakat dan tidak mengalami perubahan sama sekali, di
lain pihak ada yang mengalami perubahan atau malah hilang sama sekali sebagai
suatu tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Keberagaman atau “universal diversity” merupakan suatu
hal yang tidak bisa dihindari, terutama di Indonesia. Sebagai negara dengan penduduk yang bersifat
majemuk, Indonesia sudah dipastikan tidak bisa terlepas dari keberagaman dalam
berbagai hal. Keberagaman
ini didukung oleh wilayah NKRI yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, yang
tentunya mengalami kondisi geografis yang berbeda. Sebut saja misalnya dari wilayah pegunungan,
pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga wilayah perkotaan.
Keanekaragaman yang ada bukan
hanya berasal dari keanekaragaman budaya dari suku bangsa atau kelompok
masyarakat saja, melainkan juga keanekaragaman yang berasal dari peradaban
(tradisional dan modern), serta kewilayahan.Berkembangnya agama-agama di
Indonesia juga turut berperan dalam perkembangan dan terciptanya kebudayaan-kebudayaan
agama yang berbeda. Jadi
bisa dikatakan Indonesia adalah negara dengan keanekaraman yang tinggi
(heteroginitas tinggi).
B.
Rumusan
Masalah
1)
Apa yang
dimaksud dengan tradisi Upacara Mepandes?
2)
Apa saja
prosesi yang dilakukan pada saat tradisi Upacara Mepandes?
3)
Apa saja
makna yang terkandung dalam prosesi Upacara Mepandes?
C.
Tujuan
1)
Mengetahui
pengertian dari tradisi Upacara Mepandes.
2)
Mengetahui
prosesi yang dilakukan pada saat tradisi Upacara Mepandes.
3)
Mengetahui
makna yang terkandung dalam prosesi Upacara Mepandes.
D.
Metode
Penulisan
Metode
penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode deskriptif
dengan teknik studi kepustakaan atau literature yang dilakukan dengan cara
mengumpulkan data dari buku referensi, penunjang, dan media lainnya seputar
tema yang dibahas.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Tradisi Upacara Mepandes
Secara etimologi kata upacara
berasal dari bahasa Sansekerta, yakni Upa
dan Cara. Upa berarti sekeliling atau
merujuk ke segala dan Cara berarti
gerak atau aktivitas. Berarti secara harfiah upacara dapat dikatakan sebagai
gerak sekeliling kehidupan manusia atau aktivitas-aktivitas manusia dalam
upayanya menghubungkan diri dengan Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa,
yang tidak dilakukan secara asal-asalan melainkan berdasarkan kitab suci sastra
yang dibentangkan dalam berbagai pustaka.
Sejak berusia satu hari, setiap
orang Bali yang
beragama Hindu sudah
dipenuhi dengan berbagai ritual dalam hidupnya. Mulai dari upacara
kelahirannya, hingga ketika ia meninggal dunia. Dalam Agama Hindu sendiri
upacara dapat dibagi menjadi lima Panca
Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Pitra
Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, dan Butha
Yadnya. Salah satunya dalam tradisi agama Hindu di Bali, ketika seorang
anak mulai menginjak usia remaja atau sudah dewasa wajib melaksanakan upacara
yang termasuk ke dalam Manusa Yadnya,
yaitu tradisi Upacara Potong Gigi atau biasa disebut sebagai
Mepandes/Metatah/Mesangih dalam Bahasa Bali.
Upacara ini dianggap sakral
dan diperuntukkan untuk anak-anak yang mulai beranjak dewasa. Dimana bagi anak perempuan
yang telah datang bulan atau menstruasi, sedangkan bagi anak laki-laki telah
memasuki masa akil baliq atau suaranya telah berubah. Dengan upacara ini juga anak-anak dihantarkan
ke suatu kehidupan yang mendewasakan diri mereka yang disebut juga niskala.
Upacara Mepandes disebut pula
Metatah atau Mesangih, yakni ritual untuk memotong atau
meratakan empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan pada rahang atas yang
secara simbolik dipahat tiga
kali, diasah dan diratakan. Rupanya dari kata Mesangih, yakni mengkilapkan gigi
yang telah diratakan, muncul kata Mepandes, sebagai bentuk kata halus (singgih)
dari kata Mesangih tersebut.
Bila dikaji lebih jauh,
upacara Mepandes dengan
berbagai istilah atau nama seperti
diatas, merupakan upacara Sarira Samkara, yakni menyucikan diri pribadi
seseorang guna lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang
Widhi, para dewata dan leluhur.
Berdasarkan pengertian
Upacara Mepandes seperti di atas, dapatlah dipahami bahwa upacara ini merupakan
upacara Vidhi-Vidhana yang sangat penting bagi kehidupan umat Hindu, yakni mengentaskan
segala jenis kekotoran dalam diri pribadi, serta melenyapkan sifat-sifat
angkara murka, Sad Ripu (enam musuh pribadi manusia), dan sifat-sifat
keraksasaan atau Asuri-Sampad lainnya.
Sad Ripu merupakan enam jenis
musuh yang timbul dari sifat-sifat asubha karma atau perbuatan yang tidak baik
dalam diri manusia itu sendiri, yaitu:
1)
Kama, sifat penuh nafsu indriya.
2)
Lobha, sifat loba dan serakah.
3)
Krodha, sifat kejam dan pemarah.
4)
Mada, sifat mabuk dan
kegila-gilaan.
5)
Moha, sifat bingung dan angkuh.
6)
Matsarya, sifat dengki dan iri hati.
B.
Prosesi
Upacara Mepandes
Berdasarkan ketentuan dalam
lontar Dharma Kahuripan dan lontar Puja Kalapati, bahwa tahapan Upacara
Mepandes adalah sebagai berikut:
1)
Magumi
padangan, upacara ini juga biasa disebut sebagai mesakapan mekawon dan biasa
dilaksanakan di dapur.
2)
Nekeb,
upacara ini dilakukan di meten atau gedong.
3)
Mabyakala,
upacara ini dilakukan di halaman rumah di depan meten atau gedong.
4)
Ke
Merajan, atau tempat suci di dalam rumah. Urut-urutan upacara merajan yaitu:
(a)
Memohon
penugrahan kepada Bhatara Hyang Guru.
(b)
Menyembah
Ibu dan Bapak.
(c)
Ngayab
caru ayam putih.
(d)
Mohon
tirtha (air suci) kepada Bhatara Hyang Guru.
(e)
Ngerajah
gigi (menulis gigi dengan wijaksara) dan dipahat taringnya sebanyak tiga kali.
5)
Setelah
itu menuju ke tempat dilangsungkannya prosesi potong gigi dengan urut-urutan
upacara sebagai berikut:
(a)
Sembahyang
kepada Bhatara Surya dan kepada Bhatara Sang Hyang Semara Ratih dan memohon
tirtha kepada keduanya.
(b)
Ngayab
banten pengawak di bale dangin.
(c)
Metatah
atau memotong/mengasah dua buah taring dan empat buah gigi seri pada rahang
atas lalu turun dari tempat potong gigi, berjalan ke hilir dengan menginjak
banten paningkeb.
6)
Kembali
ke meten/gedong tempat ngekeb. Bila ingin berganti pakaian, bisa dilakukan pada
saat ini.
7)
Mejaya-jaya
di Merajan. Dengan urutan upacara sebagai berikut:
(a)
Mabyakala.
(b)
Sembahyang
kepada Bhatara Surya, Leluhur, dan Bhatara Samudya.
(c)
Menuju
ke hadapan Sang Muput Upacara. Di sini dilakukan meeteh-eteh persediaan: Mapyrascita, Pangrabodan, Ngayab pungun-pungun
dan pajejiwan, Maritha Penglukatan, pebersihan dan kekuluh, Mejaya-jaya, Ngayab
benten oton, Ngayab banten pawinten dan Mapadamel.
(d)
Kembali
ke meten/gedong tempat ngekeb.
8)
Mapinton
ke Pura Khayangan Tiga, ke Pura Kawitan dank e Pura lainnya yang menjadi
pujaannya.
Sementara
itu dalam melaksanakan Upacara Mapandes ini dibutuhkan beberapa sarana demi
kelangsungann upacara, diantaranya:
1)
Sajen
sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa
2)
Sajen
pabhayakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta
perlengkapannya seperti cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta
sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
3)
Sajen
peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
4)
Alat
pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap.
5)
Pengurip-urip
yang terdiri dari kunir serta pecanangan lengkap dengan isinya.
C.
Makna
Prosesi Upacara Mepandes
Dalam melaksanakan Upacara
Mepandes juga diperlukan beberapa perlengkapan upacara, yaitu seperangkat sirih
pinang, seperangkat piring adat, sebentuk emas, telur ayam, daging kelapa, gula
merah, dan daun pacar. Alat-alat ini mempunyai arti dan melambangkan hal-hal
tertentu, antara lain:
1)
Sirih
pinang dan piring adat merupakan sesuatu yang harus dimuliakan pada setiap
upacara tradisional sebab kedua peragkat alat ini melambangkan kesucian,
kemuliaan, dan penghormatan kepada leluhurnya.
2)
Telur
ayam melambangkan agar mempunyai keturunan yang banyak seperti ayam.
3)
Daging
kelapa melambangkan agar hati mereka lemah lembut seperti daging kelapa
tersebut.
4)
Gula
merah melambangkan agar memiliki masa depan yang manis seperti gula. Artinya
agar dalam menjalani hidupnya kelak senantiasa mendapat kesenangan dan
kedamaian hidup.
5)
Daun
pacar melambangkan agar mereka kelak mudah mendapatkan jodoh yang baik.
Adapun makna yang terkandung dalam Upacara
Mepandes ini adalah:
1)
Sebagai
simbolis meningkatnya seorang anak menjadi dewasa, yakni manusia yang telah
mendapatkan pencerahan. Sesuai dengan makna kata dewasa, dari kata devasya yang artinya milik dewa atau
dewata. Seorang yang telah dewasa mengandung makna telah memiliki sifat dewata
seperti diamanatkan dalam kitab suci Bhagavadgita.
2)
Memenuhi kewajiban
orangtua kerana telah mendapatkan kesempatan menumbuh-kembangkan kepribadian
seorang anak
sehingga anak tersebut mencapai kedewasaan, mengetahui makna dan hakekat
penjelmaan sebagai umat manusia.
3)
Secara
spiritual, seseorang
yang telah disucikan akan lebih mudah menghubungkan diri dengan Hyang Widhi,
para dewata dan leluhur, kelak bila meninggal dunia, Atma yang bersangkutan
akan bertemu dengan leluhurnya di alam Pitra (Pitraloka).
DAFTAR
PUSTAKA
http://iqbalgamers007.blogspot.com/2016/10/makalah-tradisi-upacara-adat.html?m=1
http://forester-untad.blogspot.com/2012/11/makalah-tentang-budaya-ritual-upacara.html?m=1
http://arsipbudayanusantara.blogspot.com/2013/07/makalah-upacara-adat-di-kerinci.html?m=1
http://hendrapullrebess.blogspot.com/2013/05/makalah-tentang-mesangih.html?m=1
http://inputbali.com/budaya-bali/memahami-makna-dan-tujuan-upacara-potong-gigi
https://binginbanjah.wordpress.com/2013/10/02/upacara-mepandes/amp/
https://septihariani.wordpress.com/upacara-potong-gigi/
http://forester-untad.blogspot.com/2012/11/makalah-tentang-budaya-ritual-upacara.html?m=1
http://arsipbudayanusantara.blogspot.com/2013/07/makalah-upacara-adat-di-kerinci.html?m=1
http://hendrapullrebess.blogspot.com/2013/05/makalah-tentang-mesangih.html?m=1
http://inputbali.com/budaya-bali/memahami-makna-dan-tujuan-upacara-potong-gigi
https://binginbanjah.wordpress.com/2013/10/02/upacara-mepandes/amp/
https://septihariani.wordpress.com/upacara-potong-gigi/
Komentar
Posting Komentar