Autobiografi Diri Berdasarkan Perkembangan Usia

AUTOBIOGRAFI DIRI
BERDASARKAN PERKEMBANGAN USIA

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgU1CSC3XhUMBnKKtNnqJIQ4_ff6BlcwyPGUSav7Uvd7wriCk2PjhntWobzu_3OeYzOQlnJdp-z96GXeeINQslpBtUcac6L2xHwKG_Vzj78bIDHc-d7q_R7S_pio9BjYJ2hBp52lJOWXNg/s1600/lambang+gundar.jpe

REIGITA BAASITH RAMADANTY
15519405
ILMU BUDAYA


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JL. KOMJEN.POL.M.JASIN NO.9, TUGU, KEC. CIMANGGIS,
KOTA DEPOK, JAWA BARAT
16451




Autobiografi
Namaku adalah Reigita Baasith Ramadanty, tetapi orangtuaku memenggalnya menjadi ‘Egi” sebagai nama panggilan. Aku dilahirkan secara caesar di Bandung pada tanggal 1 Desember 2001. Terlahir sebagai anak bungsu, aku memiliki seorang kakak perempuan yang usianya terpaut 4 tahun diatasku.

Beserta kedua orangtua dan seorang kakak, aku tinggal di dalam rumah yang hangat dan menyenangkan di daerah cipamokolan Bandung. Sejujurnya tak banyak memori yang tersisa pada masa-masa itu. Tapi aku masih ingat betul warna cat dinding dan halaman depan rumah yang sering kujadikan tempat bermain bersama kakakku. Saat cahaya matahari mulai bersahabat untuk kami yang ingin beraktifitas di luar rumah, aku mulai pergi ke luar rumah untuk bermain bersama anak-anak lainnya yang tinggal di sekitaran rumahku.

Saat usiaku 3 tahun, ibuku mendaftarkanku di sebuah TK yang merupakan tempat yamg sama dengan TK kakakku dulu. Aku senang sekali saat tau ibuku menyekolahkanku di sana. Walaupun harus kuakui aku ketakutan sekali saat hari pertama sekolah, beberapa kali aku kabur keluar kelas mencari Ayahku hingga akhirnya beliau harus menemaniku selama beberapa saat di dalam kelas. Di sana aku punya guru-guru yang baik sekali, salah satunya bernama Ibu Ita, entah siapa yang mengajarkan tapi pada saat itu aku senang sekali memberikan surat kepa Ibu Ita. Beberapa suratnya berisi gambar hasil karyaku, beberapa yang lain berisi tulisan tentang betapa aku menyayangi guru-guru dan teman-temanku, serta betapa aku bahagia bersekolah di sana. Setiap 2 minggu sekali kami diajak berenang di sebuah kolam renang berlantai biru yang terletak di salah satu sudut sekolah. Sebagai anak kecil tentunya aku antusias sekali diajak berenang, bahkan dari jauh-jauh hari aku sudah minta dibelikan baju renang yang baru untuk kupakai berenang bersama teman-temanku di sekolah. Pada Desember 2005 aku genap berusia 4 tahun, hari itu adalah ulangtahun pertama yang memorinya masih melekat di kepalaku hingga sekarang. Karena akan merayakan ulang tahun di sekolah hari itu aku pergi mengenakan gaun warna merah muda yang sudah kuidam-idamkan dari lama sekali, teman-teman dan guru-guruku memuji aku cantik dengan gaun dan bandana bunga-bunga yang kukenakan. Acara ulang tahunku yang diadakan di aula sekolah berlangsung meriah sekali, teman-temanku dari semua kelas beserta guru-guru dan orangtua murid juga ikut berkumpul di sana memberikan ucapan selamat ulang tahun dan merapalkan doa-doa baik untukku.

Pertengahan tahun 2007 aku memulai petualanganku sebagai seorang siswi sekolah dasar di SDN Banjarsari Bandung yang terletak di tengah kota. Aku senang sekali bersekolah di sana. Lapangannya luas sekali, aku juga punya lebih banyak pilihan jajanan karena sekolah itu punya beberapa kantin, tapi yang kuingat makanan kesukaanku yang selalu kubeli setiap hari adalah sepotong pizza seharga 6000 rupiah yang dijual di kantin depan. Sejujurnya, kelasku saat itu terasa penuh dan sesak sekali karena dihuni lebih dari 40 anak, tapi tetap terasa menyenangkan bagiku karena aku jadi punya banyak sekali teman di kelas. Di tengah-tengah rasa nyamanku bersekolah di sekolah yang memiliki seragam rompi kotak-kotak itu aku harus merasakan sedih karena rupanya saat memasuki tahun ajaran di kelas 5 aku bersama anggota keluargaku yang lain akan pindah ke kota Batam. Aku tidak terlalu nyaman berada di Batam. Aku merasa asing berada di sana karena selama ini aku hanya pergi berlibur ke sana dan sama sekali tak pernah punya pikiran kalau akhirnya kami akan menetap di kota yang termasuk dalam Kepulauan Riau itu. Tapi mau tidak mau akhirnya aku tetap melanjutkan sekolahku di SDN 001 Batam Kota. Awalnya semua berjalan baik-baik saja hingga di pertengahan semester 1 aku mulai dirundung oleh beberapa teman sekelasku yang tidak menyukaiku karena alasan yang tak jelas. Untungnya kesedihanku karena dirundung itu tak berlangsung lama, karena tahun ajaran selanjutnya yaitu saat aku naik ke kelas 6 aku dan anggota keluargaku yang lain memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta. Aku senang sekali pindah ke kota yang hangat dan ramah ini. Teman-teman dan guru-guruku yang baru di SD Taman Siswa Yogyakarta ini juga baik sekali kepadaku. Mereka memaklumiku yang pendiam dan memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi dalam bahasa jawa. Bahkan saat ujian bahasa jawa, guruku memberikanku keringanan untuk menjawab pertanyaan dengan bahasa Indonesia jika aku merasa kesulitan. Di sana juga aku diajarkan kesenian karawitan yang masuk menjadi ekstrakulikuler wajib untuk seluruh siswa kelas 5 dan 6 yang dilaksanakan setiap seminggu sekali.

Setelahnya aku memulai kehidupan baruku sebagai seorang siswi sekolah menengah pertama di salah satu sekolah swasta di Kota Bogor, yaitu SMP IT Abdullah bin Nuh. Di sekolah ini dalam satu kelas hanya terdiri dari 20-an anak, hal ini membuat proses belajar mengajar terasa lebih nyaman dan efektif menurutku. Untuk mengisi waktu luangku di hari sabtu aku memutuskan untuk mengikuti ekstrakulikuler paskibra di sekolah. Kegiatan ini memang cukup melelahkan mengingat aku harus memulai dari pagi-pagi sekali hingga sore, namun karena aku menyukai kegiatan ini rasa lelahku jadi sedikit berkurang. Tiba hingga aku duduk di kelas 9, aku belajar dan berusaha dengan giat agar nantinya aku bisa bersekolah di SMA impianku di tengah kota. Setiap hari saat ada waktu luang di sekolah aku mencoba mengerjakan latihan-latihan soal di buku soal untuk ujian nasional, ketika pulang sekolah aku melanjutkan dengan kelas tambahan di sekolah, lalu saat sabtu dan minggu di saat kebanyakan teman-temanku menghabiskan waktu dengan istirahat atau pergi bermain aku malah pergi ke tempat les untuk belajar seharian. Waktuku untuk bermain dan istirahat jadi sedikit tersita, tapi aku menyadari bahwa aku harus melakukannya demi mewujudkan impianku. Di kelas 9 ini pula aku bertemu dengan seorang teman lelaki yang banyak membantuku bertumbuh hingga hari ini. Di hari-hari tertentu saat aku terlalu lelah untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki dari tempat les, dia akan menjemputku dan membawaku pergi membeli beberapa jajanan di mini market terdekat. Dan ketika aku sangat kelelahan karena terlalu memaksakan diri untuk belajar setiap waktu, dia dengan baik hatinya mau mendengarkan keluhanku yang tak bisa kukatakan kepada orangtuaku.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha. Tetapi rupanya hal itu tidak berlaku kepadaku, aku dinyatakan gagal diterima di sekolah impianku sehingga pada akhirnya ibuku memutuskan untuk menyekolahkanku di salah satu sekolah negeri di Kabupaten Bogor, yaitu SMAN 1 Dramaga. Sejujurnya sekolahku itu adalah sekolah yang bisa dibilang bagus, baik dari segi lingkungan maupun proses belajar mengajarnya, hanya saja hatiku tetap tidak bisa menerima bahwa usahaku selama satu tahun kemarin sia-sia. Ditambah lagi dengan teman lelakiku yang memilih meninggalkanku untuk alasan yang tidak pernah kuketahui hingga bertahun-tahun lamanya. Bisa dibilang masa SMAku tidaklah sebaik dan seindah yang dikatakan orang-orang. Aku kehilangan arah dan tak mempunyai pegangan hidup. Ada banyak masalah-masalah di masa lalu yang juga kembali muncul dan mengahntui pikiranku setiap harinya. Aku tak punya seorangpun yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita sehingga aku harus menyimpan segala keluhan sendirian. Aku memutuskan untuk mengikuti paskibra di sekolah untuk membantuku bersosialisasi dan membuatku menjadi semangat pergi ke sekolah. Hal ini sedikit membantuku, karena aku jadi punya teman dan punya kegiatan yang mampu mengalihkan perhatianku dari hal-hal yang membuatku sedih. Di tahun 2017 aku mencoba mengikuti seleksi paskibraka di kabupaten tapi rupanya aku gagal karena tinggiku yang tidak memenuhi kualifikasi, tetapi aku tetap bisa mengikuti paskibraka di kecamatan bersama beberapa teman sekolahku yang lain dan juga bergabung dengan dua sekolah lainnya yang berada di satu kecamatan yang sama dengan sekolahku. Ketika kelas 12 dan aku sudah harus menentukan langkahku selanjutnya. Aku memutuskan utnuk memfokuskan diri untuk memasuki jurusan psikologi di salah satu ptn di pulau Sumatra. Hingga tiba waktunya aku mengikuti UTBK aku mencoba mengrjakannya semaksimal mungkin, aku memutuskan untuk mendaftarkan diri di 2 ptn yang terletak di Kota Palembang dan juga Kota Makassar. Tapi ternyata aku belum berhasil untuk berkuliah di salah satu ptn itu. Ibuku menyarankanku untuk mencoba ujian mandiri di salah satu universitas islam, namun ternyata aku juga belum berhasil. Dengan segala pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di Universitas Gunadarma jurusan Psikologi. Aku bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh di sini karena kau tak ingin gagal lagi.

Sejauh ini masa perkuliahanku cukup menyenangkan. Aku dikelilingin teman-teman yang baik dan cukup beragam. Hal ini membantuku untuk mengembangkan sikap toleransiku pada perbedaan. Aku juga mencoba untuk menjadi lebih berani untuk beruara dan berpendapat. Di sisi lain aku juga berusaha untuk mengembangkan hobi menulisku agar aku bisa mulai percaya diri untuk membagikan tulisan-tulisanku untuk dibaca oleh orang banyak.


Komentar