Mitos Kebudayaan Tiong Hoa

Nama : Reigita Baasith
Kelas  : 1PA10
NPM  : 15519405



Mitos Kebudayaan Tiong Hoa

Setiap daerah memiliki mitos yang dipercaya secara turun-temurun oleh masyarakatnya. Mitos juga menjadi bagian dari budaya tradisi yang biasanya dikaitkan dengan tetanan hidup yang mereka jalani. Meskipun terkadang mitos ini disampaikan dengan bahasa yang irasional serta tidak bisa diterima dengan nalar dan akal yang sehat, namun pada implementasinya ada beberapa yang menjadi sebuah ajaran kebenaran agar manusia menjalankan hidup sebagaimana mestinya; menempatkan diri pada tempat yang tepat, tidak melakukan hal-hal yang sepantasnya tidak lazim dilakukan pada saat dan tempat yang tidak tepat, serta sebuah larangan agar manusia tidak salah dalam menjalankan 'tindak-tanduknya' dalam kehidupan sehari-hari.
Kepercayaan terhadap mitos ini juga semakin diperkuat karena biasanya dikait-kaitkan dengan hal-hal yang mistis seperti gaib dan ramalan umum yang sering terjadi. Mitos-mitos kuno ini masih sering terdengar di masyarakat modern. Bahkan sebagian masyarakat juga masih mempercayainya.
Tak terkecuali masyarakat Tiong Hoa, mereka juga memiliki beberapa mitos yang masih mereka yakini hingga kini. Dari tahun ke tahun perayaan Imlek atau Tahun Baru China selalu akrab dengan tradisi, mitos dan berbagai cerita yang mungkin dianggap takhayul buat sebagian orang dan dianggap hal yang benar adanya. Menjelang imlek ada ciri yang sangat khas, seperti kue ranjang, peribadatan, dan mi. Saat tahun baru imlek banyak warga Tionghoa yang sengaja makan mi. Karena dengan mengkonsumsi mi dipercaya bisa membuat umur menjadi lebih panjang. Hal ini muncul karena bentuk mi yang tidak putus-putus dan ketika memakannya di hari itu, maka doa akan lebih mudah terkabul.
Selain itu juga, ternyata masyarakat Tionghoa memiliki mitos yang tidak boleh dilakukan ketika perayaan imlek. 

1. Angka Keburukan
Masyarakat Tionghoa masih mempercayai angka 4 merupakan angka yang dapat membawa keburukan, kesialan, sehingga masyarakat Tionghoa sangat menghindari angka tersebut.
2. Mengenakan nuansa bling-bling dan warna merah
Menggunakan sesuatu yang bernuansa bling-bling dan pakaian warna merah memiliki makna siap untuk memulai tahun bar dengan sesuatu yang lebih segar dan baru. Itu juga dianggap penting untuk memulai karier yang lebih cemerlang.
3. Keramas dapat mengurangi umur
Keramas saat perayaan imlek dianggap mempengaruhi keberuntungan. Ketika mencuci rambut ataupun pakaian, maka semua keberuntungan dan rezeki akan ikut terbuang.
4. Jangan memotong rambut
Memotong rambut saat imlek dipercayai masyarakat Tionghoa mempengaruhi umur. Jika berani memotong rambut maka umur juga akan terpotong.
5. Saling tukar buah jeruk
Bagi orang Tionghoa, jeruk dianggap sebagai buah yang membawa keberuntungan. Dengan saling bertukar jeruk saat imlek, maka kamu sama saja sedang membuat sekitar akan mendapat keberuntungan.
6. Mendengar suara burung warna merah adalah hal yang baik
Orang atau sesuatu yang pertama ditemui saat merayakan Tahun Baru dipercaya menentukan seberapa beruntung Anda pada tahun berikutnya.
Mendengar suara burung bernyanyi dianggap sebagai hal yang membawa banyak keberuntungan, terutama burung walet.
7. Tidak boleh membersihkan rumah
Rumah harusnya dibersihkan sebelum Tahun Baru datang. Karena dipercaya membersihkan rumah, bahkan yang paling sederhana seperti menyapu akan membawa nasib buruk pada setahun mendatang.
Bahkan semua alat pembersih rumah harus disingkirkan sebelum malam Tahun Baru Imlek, agar keberuntungan tidak ikut tersapu.

Saat membersihkan rumah sehari sebelum Tahun Baru, sampah yang terkumpul tidak melewati pintu depan rumah. Pelanggaran terhadap hal tersebut biasanya akan membawa kematian pada salah seorang anggota keluarga.

Komentar